Tugas
Softskill Minggu ke- 10
Cinta dan Perkawinan
Cinta
dan Perkawinan, menurut saya kedua kata itu merupakan sesuatu yang tak dapat
dipisahkan. Karena jika dua orang saling mencintai pasti ada keinginan untuk
menuju perkawinan. Perkawinan yang hanya dilakukan satu kali untuk seumur
hidup. Dalam menuju perkawinan, banyak hal yang harus kita pikirkan. Hendaklah
kita, Pria maupun Wanita harus mempunyai
tujuan atau apa yang akan dilakukan setelah terjadinya perkawinan.
Perkawinan
adalah ikatan suci yang harus kita jaga, maka dari itu pasangan yang seperti
apa yang kita inginkan agar dapat berjalan seirama dan beriringan. Walaupun
banyak orang bilang perbedaan pun bisa menyatukan dua orang dalam ikatan suci
yaitu, Perkawinan.
A.
Memilih
Pasangan
Sebelum
menuju ke Perkawinan, tentulah kita memilih pasangan yang memang sejalan dengan
apa yang menjadi prinsip hidup kita. Pendekatan evolusioner ini merupakan konsep biologis yang
diterapkan untuk perilaku sosial oleh para ahli psikologi. Evolutionary
Psychology didefinisikan sebagai usaha untuk menjelaskan perilaku sosial dalam konteks
faktor genetik yang berevolusi sepanjang waktu sesuai dengan prinsip seleksi
alami. Evolutionary psychology berpandangan bahwa manusia berevolusi untuk
memaksimalkan kesuksesan reproduksi, bahwa laki-laki dan perempuan memiliki
agenda yang berbeda atas peran yang berbeda dalam menghasilkan keturunan.
Dalam dunia binatang, kesuksesan reproduksi pejantan diukur dari kuantitas keturunannya sehingga mereka sering berganti pasangan untuk itu. Di sisi lain kesuksesan reproduksi makhluk betina bergantung pada kesuksesan meningkatkan tiap-tiap keturunanya menuju kematangan sehingga mereka hanya berpasangan dengan pejantan pilihan, mengingat bahwa untuk mematangkan tiap keturunan memerlukan ongkos yang tinggi (Berkow, 1989; Symons,1979).
Pendekatan
evolusioner dalam hal cinta dikembangkan berdasarkan konsep ini. Pendekatan
evolusioner dalam hal cinta merupakan teori yang diturunkan dari teori biologi
evolusioner yang mendukung pandangan bahwa laki-laki dan perempuan tertatrik
satu sama lain dengan karakteristik yang berbeda: laki-laki tertarik pada
penampilan fisik perempuan; perempuan tertarik pada sumber daya yang dimiliki
laki-laki. Hal ini untuk memaksimalkan kesuksesan reproduksi.
Beberapa
penelitian hasilnya mendukung pendekatan evolusioner tersebut. Misalnya hasil
penelitian Bush dkk (Bus 1989; Buss dkk, 1990) dengan subjek dari 37 negara
yang menanyakan berbagai kriteria pemilihan pasangan (untuk menikah) dan
seberapa penting kriteria tsb, pada umumnya perempuan menilai kriteria
ambisius, rajin, penghasilan yang baik lebih tinggi (penting) daripada subjek
laki-laki, dan subjek laki-laki menilai lebih penting daya tarik fisik.
Bagaimanapun perlu dicatat bahwa berbagai penelitian menyatakan bahwa
karakteristik paling tinggi pada laki-laki maupun perempuan adalah kejujuran,
dapat dipercaya, dan kepribadian yang baik.
B.
Hubungan
Dalam Perkawinan
Perhatian
(Care)
Cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kita cintai. Implikasi dari cinta yang berupa perhatian terlihat jelas dari perhatian tulus seorang ibu kepada anaknya.
Cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dan pertumbuhan dari apa yang kita cintai. Implikasi dari cinta yang berupa perhatian terlihat jelas dari perhatian tulus seorang ibu kepada anaknya.
Tanggungjawab
(Responsibility)
Tanggungjawab dalam arti sesungguhnya adalah suatu tindakan yang sepenuhnya bersifat sukarela. Bertanggungjawab berarti mampu dan siap menganggapi.
Tanggungjawab dalam arti sesungguhnya adalah suatu tindakan yang sepenuhnya bersifat sukarela. Bertanggungjawab berarti mampu dan siap menganggapi.
Rasa
Hormat (Respect)
Rasa
hormat bukan merupakan perasaan takut dan terpesona. Bila menelusuri dari akar
kata (Respicere = melihat), rasa hormat merupakan kemampuan untuk melihat
seseorang sebagaimana adanya, menyadari individualitasnya yang unik. Rasa
hormat berarti kepedulian bahwa seseorang perlu tumbuh dan berkembang
sebagaimana adanya.
Pengetahuan
(Knowledge)
Pengetahuan yang menjadi satu aspek dari cinta adalah pengetahuan yang tidak bersifat eksternal, tetapi menembus hingga ke intinya. Perhatian, tanggungjawab, rasa hormat dan pengetahuan mempunyai keterkaitan satu sama lain. Semuanya merupakan sindrom sikap yang terdapat dalam pribadi yang dewasa, yaitu dalam pribadi yang mengembangkan potensi dirinya secara produktif. Berbeda dengan Fromm yang menekankan mengenai sebab, akibat dan aspek-aspek yang menimbulkan cinta dalam penjelasan teori cintanya, Sternberg lebih menekankan pada penjelasan mengenai komponen pembentuk cinta dan beragam jenis cinta yang dihasilkan dari kombinasi tiap komponen.
Pengetahuan yang menjadi satu aspek dari cinta adalah pengetahuan yang tidak bersifat eksternal, tetapi menembus hingga ke intinya. Perhatian, tanggungjawab, rasa hormat dan pengetahuan mempunyai keterkaitan satu sama lain. Semuanya merupakan sindrom sikap yang terdapat dalam pribadi yang dewasa, yaitu dalam pribadi yang mengembangkan potensi dirinya secara produktif. Berbeda dengan Fromm yang menekankan mengenai sebab, akibat dan aspek-aspek yang menimbulkan cinta dalam penjelasan teori cintanya, Sternberg lebih menekankan pada penjelasan mengenai komponen pembentuk cinta dan beragam jenis cinta yang dihasilkan dari kombinasi tiap komponen.
Teori
mengenai komponen cinta disebut pula sebagai teori segitiga cinta. Segitiga
cinta mengandung 3 komponen sebagai berikut:
Keintiman (Intimacy)
Keintiman adalah elemen emosi, yang didalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan.
Keintiman (Intimacy)
Keintiman adalah elemen emosi, yang didalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan.
Gairah
(Passion)
Gairah adalah elemen motivasional yang disadari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual.
Gairah adalah elemen motivasional yang disadari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual.
Komitmen
Komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama. (Tambunan, 2001).
Komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama. (Tambunan, 2001).
Kombinasi
dari ketiga komponen cinta ini dapat membentuk 8 pola hubungan cinta sebagai
berikut :
Liking
(Suka)
Seseorang yang hanya mengalami komponen keintiman saja, tanpa adanya gairah dan komitmen
Seseorang yang hanya mengalami komponen keintiman saja, tanpa adanya gairah dan komitmen
Infatuated
(tergila-gila)
Cinta ini muncul karena adanya hasrat / gairah tanpa disertai keintiman dan komitmen.
Cinta ini muncul karena adanya hasrat / gairah tanpa disertai keintiman dan komitmen.
Empty
Love.
Cinta ini berasal dari adanya komitmen pada individu tanpa adanya hasrat dan keintiman.
Cinta ini berasal dari adanya komitmen pada individu tanpa adanya hasrat dan keintiman.
Romantic
Love
Cinta ini muncul dari kombinasi antara keintiman dan hasrat tapi tanpa disertai oleh komitmen.
Cinta ini muncul dari kombinasi antara keintiman dan hasrat tapi tanpa disertai oleh komitmen.
Companionate
Love
Cinta ini muncul dari kombinasi antara keintiman dan komitmen. Biasanya cinta ini muncul dalam persahabatan yang mana tidak melibatkan hasrat.
Cinta ini muncul dari kombinasi antara keintiman dan komitmen. Biasanya cinta ini muncul dalam persahabatan yang mana tidak melibatkan hasrat.
Fatuous
Love
Cinta ini muncul dari kombinasi hasrat dan komitmen tanpa adanya keintiman.
Cinta ini muncul dari kombinasi hasrat dan komitmen tanpa adanya keintiman.
Non
Love
Ketiga komponen cinta tidak ada pada pola cinta ini. Pola ini biasanya muncul dalam hubungan dengan sekitar yang tidak menetap.
Ketiga komponen cinta tidak ada pada pola cinta ini. Pola ini biasanya muncul dalam hubungan dengan sekitar yang tidak menetap.
Consummate
Love
Cinta ini muncul dari kombinasi ketiga komponen cinta (keintiman, hasrat dan komitmen). Cinta ini disebut juga sebagai cinta yang utuh. (Popsy, 2007)
Cinta ini muncul dari kombinasi ketiga komponen cinta (keintiman, hasrat dan komitmen). Cinta ini disebut juga sebagai cinta yang utuh. (Popsy, 2007)
C.
Penyesuaian
dan Petumbuhan dalam Perkawinan
Kualitas hubungan pernikahan
sekarang telah menjadi lebih penting daripada keabadian nya. Pada bagian, ini
mencerminkan kepercayaan yang tumbuh di antara Amerika bahwa kebahagiaan
pribadi adalah hak bukan suatu kemewahan. Akibatnya, pasangan cenderung
mengharapkan lebih dari pernikahan mereka daripada di masa lalu dan lebih
mungkin untuk mengakhiri pernikahan tidak bahagia dari orangtua mereka. Hal ini
menyebabkan beberapa pasangan untuk merumuskan expecttations mereka dan klaim
pada satu sama lain dalam kontrak perkawinan dan untuk negotiace perbedaan
mereka dengan mata ke arah memaksimalkan kebahagiaan bersama.
Sex dalam Pernikahan
Sebuah pertengkaran kadang-kadang mungkin berakhir di kamar tidur. Untuk ada hubungan positif yang kuat antara kepuasan pasangan dalam pernikahan mereka dan kehidupan seksual mereka. Rasanya mustahil untuk mengatakan mana yang mempengaruhi lebih lainnya. Bahkan, setiap aspek dari pernikahan adalah sama efektif dalam memprediksi sepuluh tahun lain kemudian.
Sebuah pertengkaran kadang-kadang mungkin berakhir di kamar tidur. Untuk ada hubungan positif yang kuat antara kepuasan pasangan dalam pernikahan mereka dan kehidupan seksual mereka. Rasanya mustahil untuk mengatakan mana yang mempengaruhi lebih lainnya. Bahkan, setiap aspek dari pernikahan adalah sama efektif dalam memprediksi sepuluh tahun lain kemudian.
Komunikasi dan konflik
Salah satu daerah yang paling penting dari penyesuaian perkawinan adalah belajar untuk berkomunikasi secara efektif dengan pasangan Anda. Bagaimana memiliki anak? Sampai saat ini, pasangan yang sudah menikah diharapkan untuk memiliki anak. Namun dalam dekade terakhir pilihan untuk tidak memiliki anak telah menjadi lebih dapat diterima. Umumnya, pasangan akan menunda memiliki anak sampai mereka membuat penundaan final
Perubahan dengan lamanya pernikahan Hal ini tidak jarang terdengar
pasangan yang sudah menikah mengatakan bahwa pernikahan kami saat ini berbeda
daripada sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Beberapa pasangan merasa
mereka telah tumbuh lebih dekat bersama, sementara yang lain merasa bahwa
mereka telah terpisah. Tapi hanya sedikit akan menyangkal bahwa pernikahan
mereka telah berubah dengan tahun-tahun.
D.
Perceraian
dan Pernikahan Kembali
Pernikahan
bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun dalam perjalanannya,
pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali setelah perceraian
mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan
mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan
sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami.
Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang
berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu
untuk mengambil keputusan.
Apa yang
akan mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai? Ada banyak faktor.
Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari menikah
lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor
pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai
manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi
terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati
untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda
mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan
dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang
biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya
tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai
menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita
lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.
Esensi dalam
pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu
kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.
Jika ingin sukses dalam pernikahan
baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu, jangan biarkan kegagalan
masa lalu mengecilkan hati. Menikah Kembali setelah perceraian bisa menjadi
pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk masa depan yang
lebih baik.
E.
Alternatif
Selain Pernikahan
beberapa
orang yang memutuskan untuk tidak memiliki pasangan. Mungkin mereka beranggapan
bahwa ketika kehidupan itu kita jalani dengan pasangan akan terasa sulit karena
menemukan berbagai persoalan yang nantinya kemungkinan bisa saja kita hadapi.
Akan tetapi hakikatnya menikah itu adalah ibadah. Hidup akan lebih indah
melalui segala bentuk kehidupan bersama pasangan. Seseorang yang memutuskan
untuk sendiri (single life) bisa saja disebabkan karena traumatik tersendiri
yang pernah mereka rasakan sehingga membuatnya untuk tidak berani lagi memulai
hidup secara bersama. Pengalaman memang berperan penting dalam kelangsungan
hidup seseorang. Ia bisa mengubahnya menjadi lebih kuat namun tidak sedikit
yang lemah karenanya. Membuat seseorang takut memulai, namun juga menimbulkan
arti yang mendalam.
REFERENSI
-
Adhim, Mohammad Fauzil (2002) Indahnya Perkawinan
Dini Jakarta: Gema Insani Press (GIP)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar