Untuk memenuhi tugas softskill
mata kuliah psikoterapi
“TERAPI HUMANISTIK”
Disusun Oleh :
Nama : Marchsya Rahayu
Kartikasari
NPM : ( 15513261 )
Kelas : 3PA06
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Dewasa ini setiap orang mampu memainkan peran hidupnya masing-masing. Peran
yang dimainkan tidak terlepas dari kepribadian dirinya seperti sifat yang ada
dalam dirinya. Kepribadian seseorang sangat mencerminkan perilaku seseorang,
maka dengan adanya mata kuliah ini kita diajarkan bagaimana melihat kasus atau
masalah tentang kepribadian seseorang dan bagaimana cara menghadapi dengan
terapi humanistik. Karena pada dasarnya manusia mempunyai masalah yang cukup rumit
dalam dirinya dan manusia berusaha memecahkan masalah yang terjadi dengan
kemampuan yang ada di dalam dirinya.
1.2. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan humanistik?
2.
Apa saja teknik terapi humanistik?
3.
Apa yang dimaksud dengan teknik Person-Centered
Therapy?
1.3. Tujuan
1.
Untuk memenuhi tugas softskill
mata kuliah psikoterapi.
2.
Untuk memahami mengenai humanistik
3.
Untuk memahami teknik-teknik humanistik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Humanistik
Ada banyak tokoh dari humanistik,
seperti Abraham Maslow yang terkenal dengan teori aktualisasi diri. Selain itu,
ada tokoh lain dari humanistik eksistensial yaitu Carl Rogers yang dikenal
dengan metoda terapi yang dikembangkannya, yaitu terapi yang berpusat pada
klien (Client-Centered Therapy). Dasar
dari terapi humanistik adalah penekanan keunikan setiap individu serta
memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan
dirinya. Teori humanistik eksistensial berfokus pada diri manusia. Pendekatan
humanistik eksistensial merupakan suatu pendekatan yang berusaha mengembalikan
pribadi kepada fokus sentral, yakni memberikan gambaran tentang manusia pada
tarafnya yang tertinggi.
Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba
menafsirkan perilaku penderita, tetapi terapis bertujuan untuk memperlancar
kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya
sendiri. Pedekatan ini memberikan kontribusi yang besar dalam bidang psikologi,
yakni tentang penekanannya terhadap kualitas manusia terhadap manusia yang lain
dalam proses terapeutik. Salah satu pendekatan yang dikenal dalam terapi
humanistik eksistensial adalah terapi yang berpusat kepada klien atau
Client-Centered Therapy.
Terapi eksistensial humanistik
adalah terapi yang sesuai dalam memberikan bantuan kepada klien. Karena teori
ini mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap kekacauan, keniscayaan,
keputusasaan manusia kedalam dunia tempat dia bertanggung jawab atas dirinya.
2.2.
Teknik-Teknik
Terapi Humanistik
a. Person
Centered-terapy
Person cenreted therapy merupakan terapi yang
di kembangkan oleh Carl R. Rogers pada tahun 1942. Ia memiliki pandangan dasar
tentang manusia, yaitu bahwa pada dasarnya manusia itu bersifat positif,
makhluk yang optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung jawab, memiliki potensi
kreatif, bebas (tidak terikat oleh belenggu masa lalu), dan berorientasi ke
masa yang akan datang dan selalu berusaha untuk melakukan self fullfillment
(memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk bisa beraktualisasi diri).
b. Gesalt terapi
Terapi Gestalt
dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang
berpijak pada premis bahwa individu–individu harus menemukan jalan hidupnya
sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka mengharap kematangan.
Karena bekerja terutama di atas prinsip kesadaran, terapi Gestalt berfokus pada
“apa “ dan “ bagaimana”nya tingkahlaku dan pengalaman di sini-dan sekarang
dengan memadukan (mengintegrasikan) bagian-bagian kepribadian yang terpecah dan
tidak diketahui.
c. Analysis
Transaksional
Analisis
transaksional adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada
kepribadian, komunikasi, dan relasi manusia atau hubungan interaksional.AT
didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami
keputusan-keputusan pada masa lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan
kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne
dalam pandangannya meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih dan,
dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya.
d. Logotherapy
Frank menyetujui
konsep sigmund freud mengenai ketidaksadaran tetapi menganggap kemauan untuk
lebih mendasar dari kesenangan. Perbedaan utama antara logotherapy dan
psikoanalisis adalah bahwa Freud dan Adler fokus pada masa lalu, sementara
logoterapi lebih berfokus pada masa depan.
Logoterapi
berarti terapi melalui makna dan mengacu pada pendekatan yang berorientasi pada spiritual
2.3.
Contoh Kasus
Seorang remaja umur 15 tahun menyadari bahwa dia sangat sayang pada
adiknya, tetapi pada suatu saat dia mulai sadar akan tingkah lakunya yang
bertentangan dengan pikiran itu, karena ternyata dia sering sekali mengucapkan
kata-kata iri kepada adiknya yang selalu
dibela oleh orang tua. Padahal, terhadap adik sendiri seorang kakak tidak boleh
bertindak seperti itu. Pengalaman yang nyata ini menunjuk pada suatu pertentangan
antara siapa saya sebenarnya dan
seharusnya menjadi orang yang bagaimana. Bilamana remaja mulai menyadari
kesenjangan dan mengakui pertentangan itu, dia menghadapi keadaan dirinya
sebagaimana adanya. Kesadaran yang masih samar-samar akan kesenjangan itu
menggejala dalam perasaan kurang tenang dan cemas serta dalam evaluasi diri sebagai
orang yang tidak pantas (worthless). Ia ingin memecahkan masalah agar tidak
selalu merasa cemas, serta menemukan dirinya kembali sebagai orang yang pantas
(person of worth).
Pada kasus yang terjadi pada remaja tersebut, saya menganalisis bahwa
terapi yang cocok adalah menggunakan person
centered therapy dari Carl Rogers, klien menjadi pusat dari terapi ini di
mana terapis lebih membiarkan klien menemukan jalan keluarnya sendiri. Jadi
remaja ini di buat mengerti dan paham akan masalah yang sedang dihadapinya dan
terapis tidak memaksakan klien untuk menceritakan masalahnya bila klien sedang
tidak ingin menceritakannya, klien hanya memberikan pandangan tentang masalah
yang sedang dihadapinya sedangkan pilihan dan prosesnya klien yang
menentukannya.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Terapi Humanistik adalah pada hakikatnya mempercayai bahwa individu
memiliki potensi untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan bagi dirinya
sendiri dan lingkungannya. Pendekatan ini sangat menekankan tentang kebebasan
yang bertanggung jawab. Jadi individu diberikan kebebasan seluas-luasnya dalam
melakukan tindakan, tetapi harus berani bertanggung jawab sekalipun mengandung
resiko bagi dirinya.
SUMBER :
·
http://fairsalina.blogspot.co.id/2015/04/terapi-humanistik.html
diakses 17 juni 2016 pada pukul 20.00 WIB
·
http://nurfadiyah.blogspot.co.id/2016/04/teknik-terapi-humanistik.html
diakses 17 juni 2016 pada pukul 20.45 WIB
·
http://obajanainggolan.blogspot.co.id/2016/04/terapi-humanistik-cct-logoterapi.html
diakses 17 Juni 2016 pada pukul 20.50 WIB